Title: ESD dan Media
Subtitle:
Author:

ESD dan Media

Lembar fakta bagi praktisi media untuk memajukan Pendidikan

Pembangunan Berkelanjutan

Juni 2005

 


Umum

1. Apa itu ESD?

Bagi Yuichi Morimoto, murid lelaki usia 13 tahun`di Okayama, Jepang, Education for Sustainable Development (ESD, Pendidikan Pembangunan Berkelanjutan)  itu menyangkut upaya membuat orang dewasa sadar akan arti penting menjaga jangan sampai Bumi ini menjadi bak sampah kita bersama.

 

ESD merupakan konsep dinamis yang mencakup sebuah visi baru pendidikan yang mengusahakan pemberdayaan orang segala usia untuk turut bertanggungjawab dalam menciptakan sebuah masa depan berkelanjutan. ESD merupakan bagian integral dalam mencapai tiga pilar pembangunan manusia sebagaimana diusulkan Progam Pembangunan PBB (UNDP) dan dikukuhkan dalam KTT Dunia untuk Pembangunan Berkelanjutan di Johannesburg 2002. Tiga pilar itu ialah pertumbuhan ekonomi, pembangunan sosial, dan pelestarian lingkungan hidup. Lebih jauh unsur budaya juga diidentifikasi sebagai tema dasar esensial ESD mengingat pentingnya ESD menyentuh para pemangku kepentingan dan mitra baru dalam kerangka lokal yang relevan.

 

ESD tidak bermakna sama dengan pendidikan tentang pembangunan berkelanjutan atau sekedar transfer pengetahuan. ESD berurusan dengan upaya mengubah perilaku dan gaya hidup kita bagi transformasi masyarakat yang positif. Lebih jauh, ESD tidaklah sama dengan pendidikan lingkungan hidup (environmental education, EE). EE hanyalah salah satu komponen saja ESD yang mencakup ragam tema seperti pendidikan untuk penanggulanan kemiskinan, hak asasi manusia, kesetaraan gender, demokrasi dan pemerintahan baik.

 

 

2. Apa itu Pembangunan Berkelanjutan?

Chaerudin memperlihatkan muka kosong ketika ditanya apa arti istilah “pembangunan berkelanjutan”. Tetapi tani pisang Jakarta ini menawarkan jawaban bermakna pas saat ditanya apa falsafah kerjanya. “Alam bukan warisam nenek moyang tapi titipan anak cucu,” ia menjawab. Anak dan cucunya haruslah dapat menikmati buah-buahan yang tumbuh dan burung-burung yang berkicau di kebun pisangnya, petani kecil itu menjelaskan. Pola pikir Chaerudin tak pelak berada dalam panjang gelombang sama dengan definisi yang disediakan sebuah komisi internasional tokoh-tokoh terhormat.  

 

Komisi Dunia bagi Lingkungan dan Pembangunan dalam Laporan Brundtland 1987, Masa Depan Kita Bersama, mengartikan pembangunan berkelanjutan sebagai “pembangunan yang memenuhi kebutuhan-kebutuhan masa kini tanpa menghilangkan kemampuan generasi-generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri.” Gagasan itu berseru untuk memperbaiki kehidupan manusia masa kini dan mendatang tanpa mempertinggi pemakaian sumber daya alam melebihi daya dukung bumi.

 

Pada 1992 Konferensi PBB mengenai Lingkungan dan Pembangunan, KTT Bumi I, di Rio de Janeiro mengeluarkan Agenda 21, sebuah tonggak rancangan besar mengenai pembangunan berkelanjutan  bagi semua bangsa dalam memasuki abad ke-21. Naskah 500 halaman tersebut menjabarkan setiap masalah dalam keprihatinan bersama manusia dan menyarankan langkah tindak untuk menjamin kelangsungan hidup umat manusia: dari air bersih ke hutan; dari wisata berkelanjutan ke Negara-negara Berkembang Kepulauan Kecil. Tetapi ketika KTT Bumi II bertemu di Johannesburg 2002, sebuah dokumen PBB berjudul Melaksanakan Agenda 21 mengakui kemajuan menuju sasaran Rio “lebih lamban dari yang diperkirakan, dan dalam beberapa hal keadaannya nyatanya lebih buruk dibandingkan 10 tahun silam.”

 

Kurangnya aksi ini dikarenakan kurangnya kesadaran dan ketrampilan kita. Inilah alasan mengapa ESD melangkah ke depan dengan sebuah desakan untuk membanting stir arah perkembangan abad lalu yang merisaukan dengan mengubah sikap dan perilaku orang. Konsep pembangunan berkelanjutan bersifat dinamis dan terus berkembang.

 


3. Apa itu DESD?

Pada 1 Maret 2005 Direktur Jenderal UNESCO Koichiro Matsuura  meluncurkan Dasawarsa ESD PBB (DESD) di New York. Dalam peluncuran itu, Matsuura menyatakan:

 

“Tujuan akhir Dasawarsa ini ialah bahwa pendidikan pembangunan berkelanjutan haruslah menjadi lebih daripada sekedar sebuah semboyan.  Ia harus merupakan kenyataan konkret bagi kita semua – perorangan, organisasi, pemerintahan- dalam segala keputusan dan tindakan harian kita, sehingga terpenuhilah janji adanya sebuah planet yang berkelanjutan dan dunia yang lebih aman bagi anak, cucu, dan keturunan mereka. Para pelaku utama pembangunan berkelanjutan haruslah menempatkan peran mereka dalam pendidikan anak-anak, pendidikan tinggi, pendidikan nonformal dan dalam kegiatan pembelajaran berbasis masyarakat. Ini berarti pendidikan haruslah  berubah sehingga ia mampu menanggapi masalah-masalah sosial, ekonomi, budaya dan lingkungan hidup yang kita hadapi dalam Abad ke-21.”  

 

Visi dasar Dasawarsa ESD ialah sebuah dunia di mana semua orang memiliki kesempatan memperoleh keuntungan dari pendidikan bagi transformasi masyarakat. Salah satu sasaran Dasawarsa ESD ialah untuk mengembangkan strategi-strategi di setiap tingkat untuk memperkuat kapasitas dalam ESD. Dasawarsa ESD memperkokoh prakarsa PBB lain yang sedang berjalan, khususnya gerakan Pendidikan untuk Semua (Education for All, EFA) dan Sasaran Pembangunan Milenium (Millennium Development Goals, MDG).

 

Pasal 36 Agenda 21 menggarisbawahi perlunya reorientasi pendidikan menuju pembangunan berkelanjutan. Seruan itu mencakup semua aliran pendidikan formal dan nonformal dan semua isu kunci sehubungan dengan pendidikan untuk pembangunan manusia berkelanjutan..

 

Sebagian besar masalah lingkungan hidup kita berakar dari kurangnya pendidikan kita tentang lingkungan hidup dan tentang cara-cara menuju perikehidupan yang berkelanjutan. Arti penting pendidikan untuk memajukan pembangunan berkelanjutan ditegaskan kembali di Johannesburg. Arti penting itu memperoleh makna isi Desember 2002 ketika Sidang ke-58 Majelis Umum PBB menyetujui resolusi untuk mencanangkan Dasawarsa Pendidikan Pembangunan Berkelanjutan PBB mulai 2005.

 

Resolusi itu menunjuk Organisasi Pendidkan, Sains, dan Budaya PBB (UNESCO) sebagai lembaga pelaksana utama Dasawarsa ESD. UNESCO telah bekerjasama secara  erat bersama para mitranya termasuk dengan Program Lingkungan PBB (UNEP) dan Universitas PBB (UNU).

 

Beberapa dasar Dasawarsa ESD adalah kemitraan, kepemilikan, dan kepemimpinan. Kemitraan ialah kerjasama dan seruan terwujudnya jejaring  antarperorangan dan lembaga dengan latar berbeda guna memprakarsai dan melaksanakan ESD`secara berhasil. Kepemilikan menggarisbawahi kenyataan bahwa ESD milik semua karena menyentuh semua orang di masa kini dan mendatang. Kepemimpinan di semua tingkat dan semua bidang merupakan penggerak untuk memobilisasi orang, mengubah pola pikir mereka dan untuk menghasilkan karya-karya berarti.

 

 

4. Apa itu IIS?

Rencana Pelaksanaan Internasional (International Implementation Scheme, IIS) adalah perangkat pembantu untuk mewujudkan DESD. Ia merupakan dokumen yang dimintakan kepada UNESCO untuk disusun berdasarkan konsultasi serangkaian lembaga PBB dan internasional, pemerintahan, organisasi nonpemerintah, kalangan muda, cendikiawan, dan pemangku kepentingan lain. Melalui proses konsultasi ini, IIS mempertimbangkan pandangan dan pengalaman semua mitra ini.

 

Lebih penting lagi, Rencana Pelaksanaan itu menyertakan ragam prakarsa pendidikan internasional yang sudah berjalan guna memperkokoh hubungan antara pendidikan dan pembangunan berkelanjutan. IIS menempatkan “manusia” di pusat sasaran-sasaran Dasawarsa ESD, dan berbicara tentang peran para pemangku kepentingan dari tingkat lokal hingga global. IIS menggariskan tujuh panduan dasar untuk memajukan Dasawarsa ESD dan pendekatan bagi pelaksanaan:

 

 

5. Apakah itu Strategi Regional?

Strategi Regional Asia Pasifik bagi Dasawarsa Pendidikan Pembangunan Berkelanjutan merupakan panduan yang menyarankan gerak langkah ke depan bagi kegiatan-kegiatan DESD di kawasan ini. Dikembangkan Kantor UNESCO Asia Pasifik, Biro Regional untuk Pendidikan, di Bangkok, disertai sejumlah masukan dari sebuah lokakarya Februari 2005, strategi tersebut merupakan dokumen terbuka yang dapat beradaptasi dengan kebutuhan-kebutuhan Dasawarsa ESD yang berubah-ubah di kawasan ini. 

 

Untuk menyiapkan strategi tersebut, UNESCO memesan sebuah telaah keadaan ESD di kawasan Asia Pasifik. Temuan awal para peneliti di lima subwilayah dari Asia Barat hingga Pasifik menunjukkan “ESD masih secara dominan dikonseptualkan dalam konteks pendidikan lingkungan hidup oleh banyak pemangku kepentingan kunci dan pengambil keputusan.”

 

Strategi itu mengidentifikasi tantangan-tantangan yang diangkat dalam telaah keadaan dan bertindak memfasilitasi kemitraan dan program ESD. Ia memberikan kemampuan para pemangku kepentingan di semua bidang untuk memajukan prakarsa ESD mereka. Unsur sentral strategi regional itu ialah 11 isu inti.  

 

 

6. Apa isu-isu inti tersebut?

Para peneliti di lima subwilayah (Asia Barat, Asia Selatan, Asia Timur, Asia Tenggara, dan Pasifik) yang melakukan telaah keadaan mengidentifikasi 10 isu tematis inti yang dapat menjadi fokus strategi regional:  

  1. Informasi dan Kesadaran (media lingkungan, melek media, ICT)
  2. Sistem Pengetahuan  (belajar dari pengetahuan masyarakat lokal; memadukan teknologi tradisional dan modern)
  3. Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (keanekaragaman hayati, perubahan iklim, sumber daya alam, konservasi)
  4. Perdamaian dan Kesetaraan (penyelesaian konflik, perdamaian, kesetaraan, pembangunan tepat, demokrasi)
  5. Konteks Lokal (pembangunan masyarakat, pemberdayaan)
  6. Transformasi (transformasi desa, urbanisasi, pemukiman berkelanjutan, air, kebersihan dan prasarana umum lain)
  7. Budaya (kemajemukan dan pengertian antarbudaya)
  8. Isu dan Tema Lintasbidang (hak asasi manusia, kewargaan negara, kesetaraan gender, masa depan berkelanjutan, pendekatan menyeluruh, inovasi, disiplin lintasbidang, kemitraan, produksi dan konsumsi berkelanjutan, pemerintahan)
  9. Kesehatan (HIV/AIDS, malaria)
  10. Pendidikan Lingkungan Hidup


Lokakarya strategi regional di Bangkok Februari 2005 mengusulkan isu inti ke-11: Penyertaan Pemimpin (dalam mengubah pola pikir untuk merealisasi komitmen publik dalam melaksanakan pembangunan berkelanjutan)

 

7. Siapa para pemangku kepentingan?

Lokakarya strategi regional mengidentifikasi tujuh kelompok pemangku kepentingan yang dapat melaksanakan ESD: Pemerintah dan Komisi Nasional UNESCO, masyarakat, sektor swasta, lembaga pendidikan formal, masyarakat adab (civil society), media dan lembaga internasional.

 

Pemerintah bisa jadi adalah penggerak utama karena ia melaksanakan perundang-undangan dan kebijakan bangsa. Komisi-Komisi Nasional UNESCO merupakan lembaga utama di tingkat nasional. Komisi-Komisi itu, umumnya berpusat di kementerian pendidikan suatu negara, mempunyai peran yang diperlukan, yaitu mereka melakukan kerja koordinasi dengan lembaga pemerintah dan nonpemerintah lain dan menyiapkan mekanisme untuk kegiatan-kegiatan ESD.

 

Sementara itu masyarakat merupakan sasaran yang harus dijangkau ESD. Unsur masyarakat seperti kaum perempuan, muda, dan kelompok beragama adalah tempat ESD ditanamkan dan disemaikan. ESD harus diakarkan di masyarakat lokal karena dampak pembangunan berkelanjutan dan pembangunan tidak berkelanjutan dirasakan langsung di tingkat lokal.

 

Sektor swasta merupakan mesin pertumbuhan dan, dengan dihayati tanggung jawab sosial perusahaan, memainkan peran penting. Ia dapat menyertakan sumber daya profesional dan keuangan untuk mendukung ESD. Bagi lembaga pendidikan formal, ESD hendaklah tidak dianggap sebagai tambahan satu mata ajaran lagi dalam kurikulum yang sudah sesak. Selayaknya gagasan pembangunan berkelanjutkan diintegrasikan dalam konteks semua mata ajaran dalam “sebuah pendekatan sekolah menyeluruh.”


Dalam masyarakat adab, organisasi nonpemerintah khususnya terlibat dalam advokasi, kampanye dan lobi. Mereka juga menjadi perantara antara pemerintah dan warga masyarakat, khususnya di akar rumput. Sementara itu media beroperasi untuk mengkomunikasikan pesan ESD kepada masyrakat secara luas. Dengan demikian warga masyarakat yang sudah memperoleh informasi akan memiliki indera tanggung jawab sosial bahwa tindak tanduk mereka juga berdampak terhadap kehidupan orang. Akhirnya lembaga-lembaga internasional berfungsi memperluas kerjasama dalam ESD pada tingkat kawasan dan global. Mereka juga berperan dalam mempengaruhi arah politik dan program pendidikan nasional di dunia.

 

Setiap pemangku kepentingan memainkan peran kritis untuk kebaikan semua. Oleh karenanya keseluruhan tindakan mereka seharusnya berdampak lebih besar daripada usaha individual.

 

 

8. Situs ESD apa saja dapat dikunjungi?

Contoh-contoh situs adalah:

 

 

Media

1. Apa peran media dalam ESD?

Sebagai pengganda pesan, media sepatutnya menyadari peran krusialnya untuk memajukan kesadaran publik secara luas dan rasa kepemilikan yang diperlukan untuk memastikan ESD mencapai dampak luas pada skala global. Peningkatan kesadaran publik bertautan dengan berbagi informasi dan pengetahuan, penggalangan dukungan, pengubahan sikap, dan penggantiaan kebijakan. Media melibatkan unsur media masa cetak dan elektronik, perusahaan periklanan, kantor hubungan masyarakat, kelompok teater, industri hiburan, asosiasi dan pusat pembelajaran media.

 

2. Bagaimanakah media dapat memajukan kesadaran publik tentang ESD secara efektif?

Satu cara media harus upayakan ialah membangun jaringan dengan semua pemangku kepentingan. Dalam berhubungan dengan sektor swasta, misalnya, media melaporkan perusahaan-perusahaan sukses yang mematuhi ketentuan “tiga serangkai” (triple bottom line) untuk membujuk perusahaan-perusahaan yang belum patuh untuk memenuhi akuntabilitas keuangan, sosial, dan lingkungan hidup. Sebuah kemitraan dengan organisasi nonpemerintah akan membantu wartawan mencari dan menemukan bagian-bagian terpinggirkan dalam masyarakat yang kurang diliput, atau tidak sama sekali. Sementara itu kerjasama media masa dengan perusahaan periklanan selayaknya menghasilkan pengumuman-pengumuman pelayanan masyarakat yang berisi pesan ESD.

 

3. Apakah pesan ESD itu?

Sebuah pesan ESD ialah sebuah gagasan mendesak yang dikomunikasikan kepada orang dengan cara yang dapat dipercaya dan meyakinkan supaya penerima pesan itu sadar akan arti pentingnya masa depan berkelanjutan dan bersedia turut bertanggungjawab bersama untuknya. Pesan tersebut dapat berupa semboyan atau sebuah tulisan utuh. Pesan-pesan ESD mengandung tema seperti: (i) Perubahan orang menuju kehidupan lebih baik; (ii) Perubahan orang secara positif dalam sikap, perilaku, gaya hidup, pikiran, dan tindakan mereka; (iii) Tanggapan terhadap isu-isu masyarakat hidup nyata seperti kemiskinan, hak asasi manusia, kesetaraan gender, demokrasi, dan pemerintahan baik; (iv) Keprihatinan-keprihatinan berjangka panjang generasi kini dan mendatang.

 

4. Media dapat melakukan apa lagi?

Organisasi-organisasi media dengan kerjasama UNESCO selayaknya dapat mengembangkan program pelatihan terstruktur, bahan/perangkat informatif, dan kegiatan terkait yang berfokus pada peliputan isu-isu pembangunan berkelanjutan secara filosofis dan praktis. Para pemilik media, pemimpin umum, penerbit, pemimpn redaksi dan produsen sedapatnya dibuat peka tentang isu-isu ESD sehingga mereka dapat menawarkan kepemimpinan kritis dalam advokasi ESD. Para pendekar (champions) seperti pemenang Hadiah Nobel dan selebriti selayaknya direkrut dan dimotivasi untuk mengembangkan dan memajukan pesan ESD.

 

5. Proyek ESD bagi media apa yang praktis?

Lokakarya strategi regional DESD di Bangkok Feb 2005 mendata setidaknya tiga proyek prioritas layak jalan yang dapat dilakukan media untuk memajukan ESD: 1) Pelatihan sejumlah massa kritis praktisi media peka ESD; 2) Menyelenggarakan paparan tingkat tinggi bagi para pemimpin media dengan menyertakan menteri kabinet, pendekar atau pemuka berpengaruh lain; 3) Mengembangkan alat dan bahan. Alat dapat berupa modul dan panduan untuk pelatihan dalam organisasi maupun pelatihan terbuka luas. Bahan dapat mencakup produk-produk untuk pemakaian publik seperti contoh tulisan, klip video, pesan radio, poster, dan kartun.

 

6. Apakah alat dan bahan media sudah tersedia?

Di Okayama, Jepang, Agustus 2004, organisasi nonpemerintah lokal dan UNESCO menyelenggarakan sebuah lokakarya yang mengembangkan paket-paket multimedia dan alat ICT (teknologi informasi dan komunikasi) untuk ESD. Hasilnya mencakup pesan-pesan ESD dan contoh artikel, sebuah kerangka desain kreatif untuk menghasilkan sebuah paket pembelajaran elektronik, sebuah berkas pendidikan masyarakat multimedia, dan sebuah templat situs DESD nasional. Anda dapat memeriksa alat dan materi ini di situs ESD UNESCO Bangkok: www.unescobkk.org/esd

 

7. Adakah kelompok-kelompok masyarakat yang perlu diperhatikan media?

Media hendaklah melatih kaum muda untuk sadar akan isu-isu pembangunan berkelanjutan. Sebuah usaha media lokal, misalnya, selayaknya membuka halaman kaum muda atau menyediakan waktu udara bagi anak-anak guna mendorong anak usia sekolah mau menyumbangkan karya dan komentar sehubungan dengan ESD. Lebih jauh, media dapat berhubungan dengan unsur masyarakat lebih luas seperti para pendidik, penyelenggara pemerntahan, pemuka agama dan pemimpin lokal lainnya.

 

8. Bagaimana dengan pemantauan?

Pemantauan dan evaluasi akan keluaran media secara sinambung dapat membantu mengidentifikasi peliputan, kualitas, jangkauan, dan dampak. Kekurangan-kekurangan yang ada perlu dibenahi dengan pelatihan ulang. UNESCO bersama mitra lokal dan regional layaknya menyelenggarakan pelatihan dan pemantauan tersebut

 

Sumber: Kids tell adults: Don’t mess up our future, The Jakarta Post, 5 Oct 2004; United Nations University, Institute of Advanced Studies, undated fact sheet; ASEAN groups show what a little effort can do, Bangkok Post, 23 Aug 2002; Asia-Pacific Regional Strategy for the DESD, draft document, 2005; Development of Multimedia Packages and ICT Tools Workshop outcomes, Okayama, Japan, Aug 2004

 

 

Weblink:

UNESCO Office, Jakarta, Indonesia

 


Go back to the regular design...